Friday, April 16, 2010

Kejamnya Ibu Kota


kalau bukan karena ilmu, aku sudah pergi dari kota ini. aku sudah muak menghadapi kekejaman-kekejaman yang ada di depanku. aku merindukan nilai-nilai keramahan, kasih sayang, ketenangan yang dulu selalu menghiasi masa kecilku.

mungkin benar kata orang, ibu kota lebih kejam daripada ibu tiri. semuanya disulapnya menjadi apa yang diinginkan. ketika kulangkahkan kaki keluar dari tempat tinggalku, segera kusaksikan pemandangan yang sangat menyedihkan. anak-anak kecil di bawah umur sudah berlarian di antara kendaraan yang berlalu lalang. merka yang seharusnya berada di bangku sekolah, atau bermain-main di lapangan, harus berpanas-panasan dan kehujanan di bawah atap langit. entah, apa yang mereka pikirkan saat ini. apakah ada di benak mereka tentang arti penting pendidikan? apakah mereka pernah bermimpi atas sebuah cita-cita? kalaupun ada yang berpikir, aku yakin kehidupan seperti ini bukanlah kehendak mereka. kemarin aku sangat pilu, melihat anak kecil yang kira-kira berumur 2,5-3 tahun harus terseret kendaraan karena ia terjatuh dari angkot karena harus ikut kakaknya mengamen. aku teringat kepada adik-adikku yang ada di kampung. mungkin pada saat yang sama, adikku sedang bermain, belajar, mengaji, atau yang lain. sangat berbeda sekali dengan anak kecil ini. dia ahrus menghadapi kenyataan beratnya kehidupan yang dijalani oleh orang tuanya, sehingga ia harus rela mengikuti arus kekejaman ini. kasihan sekali kau dek…..

tidak hanya anak-anak jalanan. anak-anak gedongan juga tidak luput dari kekejaman-kekejaman ini. mereka harus rela tinggal di istana-istana berpagar tinggi yang mengurungnya. mereka tidak diizinkan keluar rumah dengan alasan bahaya kekhawatiran akan bahaya pergaulan bebas yang marak di ibu kota. mereka akan disediakan apa saja yang mereka butuhkan asalkan mereka tidak keluar rumah. aktifitas mereka hanya berkutat di sekolah, rumah, dan tempat-tempat les. ok! hal itu tentu sangat bagus bagi perkembangan intelektual anak. tapi apakah orang tua mereka menegrti bahwa anak juga memiliki aspek lain dalam dirinya. meerka memiliki jiwa, mental, sosial, yang seharusnya juga berkembang beriringan dengan daya intelektual mereka. kekejaman semakin bertambah ketika orang tua harus menitipkan anak-anak mereka pada pembantu atau baby sitter karena harus bertarung dan bersaing dengan tuntutan kehidupan ibu kota yang cepat. kesempatan untuk anak hanyalah singkat. pergi pagi, pulang malam selalu menjadi rutinitas ibu kota. dan hanya keletihan dan kepenatan yang mereka sisakan untuk anak-anak mereka.

bisa dibayangkan bagaimana nasib anak-anak gedongan ini. kendati mereka anak-anak dari para orang tua yang berpendidikan, mereka harus rela tumbuh dan berkembang dibawah asuhan pembantu atau baby sitter yang jarang sekali memahami teori-teori perkembangan anak. sehingga, potensi anak di usia dini, atau investasi terbesar yang seharusnya dioptimalkan akan hilang begitu saja. bayangkan saja, ketika anak-anak bermain dengan pembantu atau sopi keluarga mereka. ketika bermain, tentu para pembantu atau sopir ini akan selalu mengalah pada “sang tuan.” bisa dibayangkan, bagaimana anak ini akan tumbuh nantinya. jiwa apa yang ada dalam dirinya? skeali lagi, kasihan sekali kau dek….

aku teirngat dengan kehidupan kecilku. baru sekarang aku merasakan betapa beruntungnya aku dengan lingkungan keluargaku. aku bukanlah anak orang kaya, tapi semua yang aku butuhkan tersedia. kebersamaan, nilai-nilai, tata krama, selalu menjadi warna hidupku.

belum lagi kekejaman-kekejaman yang aku saksikan dengan mata kepalaku sendiri. pada saat yang sma aku juga harus menyaksikan gemerlapnya ibu kota. sehingga, aku menyaksikan dau hal yang bertentangan terjadi di sini. antara neraka dan surga. dan anehnya mereka hidup berdampingan. aku benci, karena tidak ada yang bisa aku lakukan untuk mereka. itulah alasanku kenapa aku bosan hidup di sini. jika bukan karena ilmu, mungkin aku sudah kabur.

sumber :
- http://zuh86.multiply.com/journal/item/28/Kejamnya_Ibu_Kota
- http://rianthies.files.wordpress.com/2009/09/anak-jalanan1.jpg

No comments:

Post a Comment